Dulu dosen saya pernah menyampaikan, persaingan bisnis semakin lama akan semakin competitive and turbulent, apalagi di industri sepeda motor khususnya di kelas matik.

Ditambah lagi konsumen Indonesia secara umum sudah makin pinter dan piki-piki. Berbeda fitur dikit aja bisa menentukan pilihan motor matik yang dibeli, padahal toh ujung-ujungnya yang penting lincah, irit, bandel, dan resale value tinggi.

Kebetulan, saya memang lagi butuh kendaraan buat operasional sehari-hari macam nganter istri ke pasar, ke mini market, sama ke stasiun. Jelas bukan untuk off-road, bukan untuk mbabat alas, bukan buat nggaya, apalagi buat keliling Indonesia. Pilihan paling tepat adalah entry level skutik, Honda Beat atau Yamaha Mio. Singkat cerita, pilihan jatuh ke Yamaha Mio M3 karena sudah pernah punya motor Honda sebelumnya, jadi pengen mencoba sesuatu yang baru aja.

Nah, kreasi baru Yamaha Motor Indonesia adalah Mio M3 yang dibekali dengan teknologi Blue Core dan mesin berkubikasi terbesar di kelasnya, 125 CC. Mari kita tengok seperti apa sih Yamaha Mio M3 ini,  apakah sesuai ekspektasi lincah, irit, bandel, dan resale value tinggi?

Desain lampu depan Mio M3
Mio M3

Yamaha sadar bahwa mereka perlu membuat inovasi yang membedakan dari seterunya terutama Honda. Bahasa kerennya kayak the game changer yang membuat produk Yamaha bisa punya nilai lebih dibandingkan kompetitor. Insinyur Yamaha kemudian meramu berbagai racikan teknologi atau desain yang bertujuan penggunaan bahan bakar yang lebih efisien, semuanya digabungkan dan diberi label Blue Core. Mantabanget ya?

“Blue Core adalah gabungan berbagai teknologi atau desain yang bertujuan penggunaan bahan bakar yang lebih efisien”

Ada 4 hal yang menjadi pilar dari teknologi Blue Core, yaitu peningkatan efisiensi pembakaran, pengurangan tenaga yang hilang, aliran bahan bakar lebih presisi, dan penurunan berat motor secara keseluruhan. Kedengerannya agak bahasa dewa ya, hehehe. Secara konsep mirip teknologi Skyactiv milik Mazda, tapi tentunya tiap pabrikan punya paten masing-masing.

Lalu, bagaimana wujud dari teori-teori di atas dalam penggunaan sehari-hari?

Performa dan Efisiensi

Mesin Mio M3 ini cukup responsif untuk dibawa stop and go di jalanan macet Jakarta. Saya memang tidak mengukur menggunakan alat-alat khusus. Tapi akselerasi hingga 60km/h bisa dicapai tanpa kesulitan. Namun secepat-cepatnya motor matic, kekurangan mendasar sistem transmisi CVT masih sangat terasa, CVT belum bisa menyamai responsifnya transmisi manual. Rasio gear CVT tidak bisa berubah secepat keinginan saya, sehingga jeda antara putaran gas dengan bertambahnya kecepatan masih terasa, ngeden. Kita harus mengurut putaran gas agar akselerasi bisa mencapai kecepatan tinggi. Jika dibandingkan dengan Beat FI? Menurut saya jika sama-sama standar, sama saja hehe.

“Mesin Mio M3 ini cukup responsif untuk dibawa stop and go di jalanan macet Jakarta”

Bagaimana dengan efisiensinya? Yamaha menyempilkan lampu indikator eco mode pada panel speedometer untuk membantu rider mengatur gas secara efisien. Namun nyatanya hampir mustahil menjaga lampu indikator terus menyala di jalan raya, kecuali di dalam komplek.

Selama penggunaan kurang lebih 1 minggu dengan rute perjalanan dalam kota Jakarta yang macet, rata-rata saya membukukan konsumsi bensin 49,1 km/liter full pertamax. Walaupun kondisi jalanan stop and go membuat saya sulit untuk menjaga indikator eco mode selalu dalam keadaan menyala, tapi konsumsi bensin menurut saya cukup irit untuk kelas motor matik. Jika anda lebih sabar memainkan gas, dan setia menjaga indikator eco mode tetap menyala, seharusnya konsumsi bensinnya bisa lebih irit lagi. Klaim bengkel yamaha, jika kecepatan konstan dan indikator eco mode selalu menyala maka konsumsi bensin dapat mencapai 70 km/liter, mari kita aminkan doa bengkel Yamaha tersebut.

“perjalanan dalam kota jakarta yang macet, rata-rata saya membukukan konsumsi bensin 49,1 km/liter full pertamax”

Ride and Handling

Urusan handling, Yamaha memang jagonya. Mio M3 sangat enak diajak meliuk-liuk menembus kemacetan Jakarta. Mau rebahan cukup dalam ketika menikung? pede saja. Motor ini cocok buat anda yang gemar mengendarai dengan kecepatan lumayan tinggi setidaknya hingga 70 Km/h, karena lebih dari itu mulai sedikit melayang.

Yamaha terkenal menyetting keras suspensi motor produksinya demi handling, tentu dengan mengorbankan sisi kenyamanan. Suspensi depan dan belakang Mio M3 keras, pake banget. Dijamin pergelangan tangan dan pinggang akan pegal menghadapi jalanan Jakarta plus seabreg polisi tidurnya jika dilalap terus-terusan selama lebih dari satu jam. Untungnya busa jok tebal, sehingga pantat tidak cepat panas jika berlama-lama duduk di atas motor.

Sangat disayangkan, karena sejak jamannya motor bebek era 90-an sampai matik era 2010-an, tidak ada kemajuan berarti di sektor kenyamanan. Walaupun Mio M3 memang bukan motor flagship tapi boleh dong menuntut perbaikan dari pabrikan.

“Mio M3 sangat enak diajak meliuk-liuk menembus kemacetan Jakarta

Saya sudah mencari-cari cara agar suspensi Mio M3 ini lebih enak dan manusiawi, karena itu saya mencoba dengan mengganti suspensi belakang dengan punya X-ride. Hasilnya? lebih empuk sedikit, namun hampir tidak berbeda. Malah motor jadi nungging dan memberikan tekanan berlebih pada pinggang.

Design

Di sinilah Mio M3 benar-benar bersinar. Menurut saya, styling motor ini mantabeut, paling ganteng di kelasnya. Apalagi jika dilihat dari samping. Dari belakang memang agak kurang, tapi tak apa-apa lah.

Sayang ukuran ban dari pabrikan kecil sekali, depan 70/90 dan belakang 80/90 ring velg 14. Buat anda yang merasa harga dirinya tersobek-sobek karena naik motor dengan ban kayak kaki tikus, lebih baik segera mengganti dengan ukuran ban yang lebih besar.

“Menurut saya, styling motor ini mantabeut, paling ganteng di kelasnya”

Mari sejenak kita nikmati dulu kegantengan Yamaha Mio M3.

創作者介紹
創作者 Otomotif Terbaru 的頭像
otomotiff

Otomotif Terbaru

otomotiff 發表在 痞客邦 留言(0) 人氣( 16 )